Prinsip Full Cost Recovery (Pemulihan Biaya Penuh)

Salah satu upaya yang dilakukan oleh PDAM untuk mendapatkan tingkat kesehatan keuangan perusahaan sesuai dengan prinsip kepengusahaan, yaitu menyesuaikan harga jual produk (air) kepada pelanggan namun dengan tetap memperhatikan tugas PDAM sebagai pelayan publik dan pelayan sosial.

Tujuan utama penyesuaian harga jual produk PDAM yaitu untuk menjamin pengelolaan perusahaan yang berkesinambungan berdasarkan prinsip perusahaan yang sehat. Usaha ini tentunya mesti diikuti oleh perbaikan-perbaikan dibidang lain seperti peningkatan efisiensi perusahaan, peningkatan produktifitas karyawan serta yang tidak kalah pentingnya yaitu menekan tingkat kehilangan air (uncountable for water/UfW) sekecil mungkin.

Permasalahan tariff ini telah menjadi permasalahan umum yang dihadapi oleh PDAM karena pada awal-awalnya keberadaan PDAM lebih banyak beroperasi sebagai perusahaan memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat sosial, sehingga masyarakat sudah terbiasa memperoleh air dengan harga jauh dibawah ongkos produksinya. Hal ini berlangsung sudah begitu lama, sehingga cukup sulit untuk merubah persepsi masyarakat dari air yang mempunyai harga murah ke harga wajar. Usaha penyeseuaian tariff air dengan harga wajar sering mendapat tantangan/protes dari masyarakat melalui DPRD dan LSM. Hal ini tentunya menyulitkan PDAM untuk dapat beroperasi sesuai dengan prinsip perusahaan yang sehat.

Memperhatikan laporan-laporan yang masuk ke Perpamsi sampai saat ini, umumnya PDAM yang berskala besar telah menerapkan tariff air yang sesuai dengan prinsip pemulihan biaya penuh (full cost recovery). Untuk mendapatkan harga wajar ini tentunya terlebih dahulu dimulai dengan sosialisasi yang transparan tujuan kenaikan tariff yang dibarengi peningkatan pelayanan (perluasan jaringan, penambahan tekanan, peningkatan kualitas air), dan penurunan tingkat kehilangan air. Jika hal ini telah dapat dipenuhi oleh PDAM, maka penyesuaian tariff yang wajar dapat diterapkan dan terima masyarakat tanpa protes yang berarti.

Penyerahan Sertifikat ISO 9002 (PDAM Tirtanadi)
Sertifikat ISO 9002 dari Kema Registered Quality Belanda diserahkan pada tanggal 1 Mei 2001.

Iso 9002 -Pengolahan Air Deli Tua. Guna memenuhi tuntunan kualitas, kuantitas dan kontinuitas pasokan air secara terukur dan teruji, PDAM Tirtanadi telah mengaplikasikan standard mutu ISO 9002 pada salah satu instalasi yang dimiliki yaitu instalasi pengolahan air Deli Tua. Selain peningkatan kualitas, tujuan lain dari diterapkannya sertifikasi untuk instalasi tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi di segala bidang mulai dari tenaga kerja, penggunaan bahan kimia, tenaga listrik dan pengoperasian peralatan yang ada. Dengan penerapan ISO 9002 tersebut diharapkan produktivitas instalasi pengolahan air Deli Tua akan dapat ditingkatkan.

Disamping peningkatan kualitas air hasil olahan, PDAM Tirtanadi juga sedang merencanakan pembangunan fasilitas pengadalian sludge dengan tipe sun drying bed, sehingga sisa olahan yang dialirkan ke sungai adalah dengan kualitas zero waste.

 

Air Minum TEKAER (PDAM Tirta Kerta Raharja)
Itu pun Hadir di Wilayah Terpencil

Kronjo adalah sebuah wilayah kecamatan di wilayah Kabupaten Tangerang. Terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Tangerang arah ke pantai utara Jawa Barat, kawasan itu baru dapat dicapai setelah berkendaraan mobil selama kira-kira dua jam. Begitu lama ditempuh karena jalan penuh lubang sehingga mobil terpaksa berjalan perlahan, itu pun harus zig-zag untuk menghindari lubang-lubang besar yang aspalnya sudah hancur berantakan.

Menurut Camat Konjo, Mulyono, penduduk wilayah administrasinya yang berjumlah sekitar 77.700 jiwa yang tersebar di lima desa selama ini kesulitan air, khususnya air minum. Penduduk yang mampu, dan itu menurut seorang penduduk bernama Jatam hanya 10 persennya, membuat bak-bak penampung air hujan untuk persediaan di musim kemarau. Selebihnya menggantungkan diri pada air irigasi yang dialirkan dari Sungai Cisadane, yang belakangan ini sudah pula mengalami polusi yang berat. Di sana-sini, penduduk secara kolektif membangun empang ukuran 20 x 20 meter, dan ke situlah sebagian air irigasi itu dialirkan untuk sekadar diendapkan, lalu dipakai dengan cara mengambilnya dengan jerigen ke rumah masing-masing.

Itu terpaksa dilakukan karena air tanah di kawasan yang hanya terletak sekitar 4 kilometer dari pantai itu terasa anta, bahkan asin, samasekali tidak dapat digunakan untuk mandi, mencuci, apalagi untuk diminum.

Beruntung, penduduk yang umumnya petani atau petambak ikan bandeng itu sejak Januari 2002 seperti kejatuhan hujan di padang pasir dengan hadirnya PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang di hadapan mereka. Walaupun kehadiran itu tidak seperti kehadiran PDAM ini di kawasan perkotaan yang menjangkau rumah-rumah penduduk dengan pipa-pipa.

PDAM Kabupaten Tangerang hadir di Kecamatan Kronjo, tepatnya di Desa Muncung bersebelahan dengan kantor Kepala Desa dengan sebuah instalasi pengolahan air asin menjadi air siap minum dalam kemasan dengan merek dagang TEKAER. Merek ini berasal dari nama PDAM Tirta Kerta Raharja. Hebatnya, kendati air minum kemasan tersebut berani bersaing dalam mutu dengan aneka jenis air kemasan yang telah sejak lama dikenal penduduk perkotaan seperti Aqua, Ades, Aguaria, VIT dan sebagainya, harganya luarrrrrr biasa murah, Rp 2.500 per galon a 20 liter. Jadi 1 liter air siap minum Rp 125. Bandingkan dengan air kemasan Aqua yang di agen-agen telah mencapai Rp 6.500 per gallon a 20 liter. Bandingkan pula dengan segelas air teh tanpa gula di restoran yang bisa mencapai Rp 1.000.

Produksi instalasi pengolahan air dengan sistem Osmosis Balik (Reverse Osmosis) tersebut memang baru mencapai 20 meter kubik bila dijalankan dalam 24 jam, belum cukup memenuhi kebutuhan penduduk kecamatan yang meliputi 77.700 jiwa tersebut. Tetapi sebagai langkah terobosan yang sudah sejak puluhan tahun diidam-idamkan, pembangunan instalasi pengolahan air payau tersebut menjadi air siap minum jelas dapat membuka babak baru perairminuman di kawasan tersebut, dan boleh jadi akan menjadi model bagi pembangunan instalasi serupa di kawasan-kawasan pantai lainnya, yang belum terjangkau oleh PDAM dengan pipa-pipanya.

Direktur Utama PDAM Tirta Kerta Raharja Drs. Dadan Hendra Sambas mengatakan, memang ada semacam ketidakadilan yang dirasakan oleh penduduk pantai utara Tangerang dalam penyediaan air bersih. Sebagian penduduk perkotaan dapat menikmati air bersih produksi PDAM sementara penduduk yang tersebar di kawasan pantai utara tidak. Bukannya pipa-pipa PDAM tidak bisa menjangkau mereka, tetapi untuk itu diperlukan investasi yang luar biasa mahal sehingga tidak terpikul untuk masa sekarang. Maka perlulah dicarikan alternatif, agar jangan ada kesan seakan PDAM Kabupaten Tangerang tidak peduli dengan penduduk pantai utara. Dan teknologi alternatif itu adalah Osmosis Balik.

Teknologi osmosis balik itu sendiri menurut Drs. Dadan sebenarnya masih merupakan kontroversi di kalangan pakar karena teknologi jenis ini memang mahal, jauh lebih mahal dibandingkan dengan instalasi pengolahan air bersih yang biasa, yang mengambil air baku dari sungai atau sumur bor yang mutu airnya jauh lebih baik. Dan memang teknologi seperti ini tidak sesederhana yang kita pikirkan. Dikatakannya, alat-alatnya juga sangat sensitif sehingga tidak bisa begitu saja dipercayakan kepada masyarakat setempat. “Tetapi demi komitmen kita untuk melayani masyarakat pantai utara Tangerang, instalasi ini kita bangun,” ujar Drs. Dadan.

Memang tidak ada alternatif apa pun untuk menggantikan air dalam kehidupan manusia, sehingga setetes air menjadi begitu berharga bagi kelangsungan hidup kita. Oleh karena itu berbagai upaya perlu dilakukan oleh PDAM TKR untuk dapat membantu penyediaan air bersih masyarakat, baik yang berada di wilayah perkotaan maupun di daerah pedesaan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup yang kelak akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang. Untuk mengolah air payau menjadi air bersih yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat, diperlukan suatu teknologi sendiri yang berbeda dengan sistem pengolahan air pada umumnya.

Beberapa teknologi pengolahan air payau atau air asin yaitu destilasi, osmosis balik, pertukaran ion dan elektrodialisis. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh tim Litbang PDAM TKR bersama tim BPPT, maka dipilihlah proses pengolahan air dengan sistem teknologi membran osmosis balik. Air bersih yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi.